Kamis, 22 Oktober 2015

Tjong A Fie Mansion : Peninggalan Peranakan di Tengah Kota Medan

Beberapa hari lalu, saya dan ibu saya berkunjung ke Medan dan sekitarnya. Ceritanya mengantarkan nenek dari ibu saya pulang ke rumahnya di Tebing Tinggi (sekitar 2 jam dari Medan). Pada kunjungan ke Medan kali ini, salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Tjong A Fie Mansion. Sudah berkali-kali datang ke Medan, bahkan pernah tinggal di Medan selama 3,5 tahun, tapi kami belum pernah berkunjung ke sini sama sekali.

Tjong A Fie Mansion terletak di daerah Kesawan, pusat kota tua Medan. Pemiliknya, Tjong A Fie, merupakan seorang pendatang dari Cina yang terkenal sebagai seorang pengusaha, bankir, dan mayor pada zamannya. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang yang dermawan karena tidak hanya dekat dengan para petinggi Kesultanan Deli, tapi juga dekat dengan masyarakat pribumi dari golongan manapun.


Dari mulai memasuki gerbang, nuansa peranakan (sebutan untuk pendatang dari Cina di tanah Melayu) sudah mulai tampak. Secara keseluruhan, Tjong A Fie Mansion didesain dengan gaya arsitektur campuran Cina, Melayu, dan Eropa. Setelah memasuki gerbang, kami melewati sebuah taman yang rindang. Di taman tersebut terdapat sebuah prasasti yang berisikan sejarah singkat hidup Tjong A Fie. Kemudian, kami menuju teras rumah dan membayar uang masuk sebesar Rp 35.000,-/orang agar bisa menikmati keseluruhan Tjong A Fie Mansion.


Ruang pertama yang kami masuki cukup luas. Ruangan ini berisikan foto-foto Tjong A Fie dan keluarganya, aneka guci, serta pajangan khas peranakan lainnya.

Ibu Saya di Depan Foto Tjong A Fie

Setelah itu, kami memasuki banyak ruangan lainnya. Tjong A Fie Mansion sendiri terdiri dari 2 lantai. Sebagian besar ruangan di lantai bawah diperuntukkan sebagai ruang tamu, ruang ibadah, serta ruang makan.



Sedangkan lantai atas lebih banyak diperuntukkan sebagai kamar tidur. Untuk melihat-lihat ruangan di lantai atas, kami menaiki sebuah tangga kayu berwarna coklat.


Begitu sampai di lantai atas, kami dihadapkan dengan sebuah ruangan yang cukup besar. "Sepertinya" dulu ruangan ini dijadikan sebagai tempat berkumpul dan bersantai. Ruangan ini langsung menjadi favorit saya karena ukurannya yang luas dan memiliki banyak jendela.



Setelah itu, kami memasuki beberapa kamar tidur. Salah satunya adalah kamar tidur utama Tjong A Fie beserta istrinya. Sayangnya, di sini dilarang untuk mengambil foto. Meskipun begitu, saya iseng mengambil foto koleksi botol wine milik Tjong A Fie yang cukup unik :p


Setelah puas berkeliling lantai atas, kami pun turun kembali. Ternyata di bagian belakang rumah masih banyak ruangan lainnya yang berisikan koleksi buku dan benda seni milik Tjong A Fie, seperti peta lama kota Medan dan sebuah piano tua berwarna coklat.



Dari situ kami berjalan ke arah pintu keluar yang terletak di samping rumah. Sebelum keluar, kami melewati sebuah taman kecil yang dihiasi aneka tanaman dan air terjun buatan.